Lingkungan Masyarakat dan Pendidikan Umar bin Abdul Aziz
Lingkungan
Sosial memegang peranan kuat dan penting dalam membangun dan mencetak
orang besar.
Umar bin Abdul Aziz hidup di zaman keemasan Islam,
zaman di mana masyarakat yang saleh, bertakwa, cinta terhadap ilmu, dan
keteguhan berpegang pada Alquran dan sunah merupakan cirri dominan
masyarakatnya. Maysarakat yang menganggap dosa adalah aib yang besar dan
memalukan, yah itulah kondisi umum masyarakat pada saat itu.
Saat itu pula orang-orang mulia yang dicintai
Allah dan rasul-Nya masih ditemui,
“
Orang-orang yang
terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin
dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah
ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” (QS.
At-Taubah: 100).
Benar saja,
muhajirin dan
anshar
masih ada dan setia membimbing umat nabi mereka.
Umar bin Abdul
Aziz berguru kepada Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib, Sa’ib
bin Yazid dan Sahal bin Sa’ad. Umar meminta sebuah gelas yang pernah
dipakai Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam minum dari
Sahal bin Sa’ad. Ia pernah shalat mengimami sahabat yang mulia Anas bin
Malik, beliau pun memuji Umar dengan mengatakan, “Aku tidak melihat anak
muda yang paling mirip shalatnya dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wa sallam daripada anak muda ini.”
Pendidikan Umar bin Abdul Aziz
Abdul
Aziz, ayahanda Umar memilih Shalih bin Kaisan sebagai pendidik anaknya,
Shalih pun mendidiknya dengan baik. Shalih mengharuskan Umar shalat
lima waktu berjamaah di masjid. Suatu hari Umar tertinggal dari shalat
berjamaah, maka Shalih bin Kaisan pun bertanya, “Apa yang
menyibukkanmu?” Umar menjawab, “Pelayanku menyisir rambutku.” Shalih
berkata, “Sedemikian besar perhatianmu terhadap menyisir rambut,
sampai-sampai kamu tertinggal shalat.” Lalu Shalih menyampaikan hal itu
kepada ayah Umar bin Abdul Aziz, maka ayahnya mengutus seseorang dan
langsung mencukur rambutnya tanpa bertanya apa-apa lagi.
Di antara
guru-guru yang berpengaruh bagi dirinya adalah Ubaidullah bin Abdullah
bin Utbah bin Mas’ud, Umar sangat menghormatinya, menimba ilmu darinya,
beradab dengan meniru prilakunya, dan sering mengunjunginya, sampai
ketika Umar menjadi gubernur Madinah, ia pun sering melakukan hal itu.
Ketika Umar menjabat sebagai khalifah, ia mengatakan, “Seandainya
Ubaidullah masih hidup, niscaya aku tidak menetapkan sebuah keputusan
kecuali berpijak dengan pendapatnya. Aku berharap memperoleh ini dan ini
dengan satu hari bersama Ubaidullah.”
Gurunya yang lain adalah
Sa’id bin Al-Musayyib, ia dijuluki sebagai bintangnya para tabi’in. Jika
generasi sahabat memiliki Abu Bakar sebagai tokoh utama, maka generasi
tabi’in diwakilkan oleh Sa’id bin Al-Musayyib, demikianlah pujian ulama
terhadapnya. Ia merupakan seorang ulama yang kharismatik, berwibawa, dan
disegani oleh para pemimpin. Bilamana khalifah datang ke suatu masjid
yang memerlukan untuk mengosongkan masjid tersebut, sementara di sana
sedang duduk Sa’id, maka khalifah tidak akan berani menyentuhnya karena
kewibawaannya. Ia tidak pernah mendatangi seorang gubernur pun selain
Umar. Menunjukkan keshalihan dan kebaikan Umar pun diakui di mata
seorang Sa’id bin Al-Musayyib.
Salim bin Abdullah bin Umar bin
Khattab juga merupakan salah seorang gurunya. Sa’id bin Al-Musayyib
pernah memujinya, “Putra Umar (bin Khattab) yang paling mirip dengannya
adalah Abdullah, dan anak Abdullah yang paling mirip dengannya adalah
Salim.” Umar sangat menyayangi Salim, saking sayangnya, orang-orang pun
menganggapnya berlebihan. Namun Umar membela diri karena Salim memang
layak mendapatkan hal seperti itu.
Suatu hari, Salim bin Abdullah
datang kepada Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, saat itu salim memakai
baju yang kasar dan using. Sulaiman menyambutnya dengan hangat dan
mempersilakannya duduk di singgasananya. Umar bin Abdul Aziz ikut hadir
di majlis tersebut, maka seorang laki-laki di barisan belakang berkata
kepada Umar, “Apakah pamanmu itu tidak bisa memakai baju yang lebih
bagus dan lebih baik dari bajunya itu untuk menghadap
amirul
mukminin?” Orang yang berbicara ini memakai baju yang bagus dan
mahal. Umar menjawab. “Aku tidak melihat baju yang diapakai pamanku itu
mendudukkannya di tempatmu ini, dan aku juga tidak melihat bajumu ini
bisa mendudukanmu di tempat pamanku itu.”
Umar bin Abdul Aziz
terdidik dan belajar di tangan para ulama dan
fuqaha’ dalam
jumlah besar, jumlah gurunya mencapai tiga puluh tiga orang; delapan
dari mereka adalah sahabat dan dua puluh lima lainnya adalah tabi’in.
Umar bin Abdul Aziz menimba ilmu dan hikmah dari mereka, sehingga
tampaklah ilmu dan akhlak yang mulia pada dirinya. Ia memiliki jiwa yang
tangguh dalam menghadapi rintangan, keteguhan pemikiran yang mendalam
dan selalu merenungkan Alquran, berkemauan kuat, dll.
Inilah
faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian Umar. Sejak kecil ia sudah
ditempa oleh pribadi-pribadi luhur dan agung. Membimbingnya agar menjadi
seorang yang mencintai Allah dan dicintai oleh Allah.
Bersambung
insya Allah…